Mengenalkan Islam Pada Anak Usia Baligh

Posted on
Usia baligh merupakan awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Pada usia tersebut anak sudah memiliki tanda-tanda fisik orang dewasa seperti tumbuhnya bulu pada ketiak dan kemaluan, kumis, jenggot serta pecahnya suara dan tumbuhnya jakun untuk laki-laki. Dan di usia baligh pun anak sudah mulai menanggung dosa-dosanya atas segala kesalahan yang dia lakukan.Sebenarnya jika Sahabat Abiummi telah mengenalkan islam dan mendidik anak secara islami sejak usia dini bahkan sejak dalam kandungan maka, pada usia baligh ini pekerjaan rumah kita sebagai orang tua tidaklah terlalu berat.Ibarat petani Sahabat Abiummi tinggal menunggu panen tiba. Paling sesekali saja menengok sawah untuk sekedar membuang gulma. Namun jika ternyata  belum mengenalkan keimanan dan mendidik anak secara islami seperti apa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah SAW maka kerja berat dan usaha maksimal harus dilakukan.

Tentu lebih mudah mendidik/mengajarkan penanaman aqidah pada anak usia balita ketimbang anak usia baligh. Karena anak usia balita masih sangat tergantung pada kedua orang tuanya. Tingkat kepatuhannya masih tinggi, belum terkontaminasi oleh indahnya tipu daya dunia  sehingga lebih mudah untuk diarahkan.

Namun demikian bukan berarti usaha 0rang tua yang baru mengenalkan ajaran islam pada anak usia baligh adalah sesuatu yang sia-sia. Karena sesungguhnya tidak ada kata terlambat jika kita mau berusaha. Dan Allah maha mengabulkan segala doa hamba-hambaNya.

Lalu bagaimana cara menanamkan aqidah islam pada anak usia baligh? Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Mulai dari manakah mendidiknya agar efektif dan efisien guna memperoleh tingkat keberhasilan yang tinggi.

8  langkah mengenalkan islam pada anak usia baligh

Seorang pakar parenting islami sekaligus pemilik sekolah karakter berbasis Qur’an Triana Luthfiyah.,M.Ag mengatakan berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW ada 8 langkah yang harus dilakukan orang tua yaitu :

  1. Mengantarkannya pada orang orang sholeh

Seperti  yang dilakukan oleh para sahabat Rasul bahwa disaat anak laki-laki mereka sudah memasuki masa baligh maka sebagian besar dari para sahabat mengirim anak mereka ke tempat orang-orang shaleh untuk belajar ilmu agama. Ada sahabat yang mengirim anak mereka ke rumah sahabat lainya yang ahli hadist, ahli tafsir, ahli shirah dan sebagainya. Jika sudah paripurna ilmu yang diterima maka orang tua mereka akan mengirim ke rumah sahabat lain untuk mempelajari ilmu lainya. Hal tersebut bertujuan agar anak mulai terbiasa untuk hidup mandiri, meneladani akhlak orang-orang shaleh dan memiliki ilmu agama yang sempurna.

Untuk zaman sekarang contoh konkritnya adalah dengan menyekolahkan anak di pesantren atau jika tidak dimasukkan ke pesantren bisa diganti dengan seringnya mengajak anak silaturahim/berkunjung ke rumah para ulama shaleh. Meminta nasehat dari para alim ulama atau sekedar mendengarkan kisah perjuangan beliau dalam berdakwah.

  1. Melindunginya agar tidak bergaul dengan orang yang rusak akhlaknya

Anak usia baligh biasanya sangat loyal pada teman-temannya. Seringkali mereka lebih setia dan patuh pada teman-temannya atau pada aturan yang dibuat komunitas mereka ketimbang mematuhi orang tuanya. Untuk itu abiummi sebagai orang tua harus menyeleksi siapa saja yang bisa menjadi teman baik anak-anak. Sebagai orang tua abiummi harus mengetahui dengan siapa anak kita bermain agar tidak terperosok pada lembah kemaksiatan.

Masukkanlah anak-anak ke organisasi atau komunitas orang-orang shaleh yang memiliki kegiatan bermanfaat untuk dirinya dan umat bagi kehidupannya dunia dan akhirat.

Allah SWT berfirman :

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain, dan jika syaitan menjadikan kamu lupa( akan larangan ini ) , maka jangnlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat ( akan larangan itu) ( Al An’am : 68).

 

  1. Mengajarkan alquran

Baru mengajarkan al-Quran pada anak usia baligh bukanlah perkara mudah. Karena memori anak usia baligh telah dipenuhi oleh berbagai keindahan dunia yang melenakan. Selain itu anak usia baligh sudah tidak bisa lagi dipaksa untuk melakukan sesuatu sekalipun itu baik untuk dirinya. Namun bukan berarti mustahil untuk mengajarkannya membaca dan memahami alquran. Jika ada kemauan pasti ada kemudahan.

Namun alangkah baiknya apabila belajar alquran ini bukan saja keinginan kedua orang tuanya tetapi juga kemauan dari si anak itu sendiri. Karena jika hanya orang tuanya yang ingin sementara anaknya tidak menghendaki akan sangat sulit untuk mencapai hasil sesuai yang diinginkan.

Untuk itu orang tua harus mampu mengetuk hati anak dan memberikan pencerahan tentang pentingnya belajar alquran. Karena Alquran merupakan petunjuk dan pedoman bagi setiap manusia di muka bumi dalam menjalani takdirnya sebagai khalifah.

“Hak anak atas orang tuanya ada tiga : memilihkan nama yang baik ketika baru lahir, mengajarkan Kitabullah (Al-Qur”an) ketika mulai berpikir dan menikahkannya ketika dia dewasa” (HR. Ahmad).

  1. Mengajarkan aqidah

Adab atau akhlak yang mulia merupakan cerminan dari aqidah yang sempurna. Untuk itu sebelum kita mengajarkan adab atau akhlak pada anak tanamkan dulu aqidah pada anak. Untuk anak usia baligh awali dengan memperkenalkan anak pada Allah dan sifat keesaannya. Bahwa Allah SWT adalah satu-satunya zat yang wajib disembah. Tiada tuhan selain Allah dan tidak akan meminta pertolongan pada siapapun selain pada Allah.

Akidah yang kuat akan menjadi pondasi ke-islamannya. Perhatikan bagaimana perkataan Luqman kepada anaknya,


وَإِذْ قَالَ لُقْمَنُ لِآبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ, يَبُنَىَّ لاَ تُـشْرِكْ بِاللهِۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ۝

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ‘Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu merupakan kezhaliman yang besar.” (Qs. Luqman: 13)

Ajarkan anak untuk selalu merasa Allah melihatnya sehingga ia tidak berani melakukan hal-hal buruk dan maksiat karena meskipun orang tuanya tidak mengetahui perbuatannya tetapi Allah Maha melihat dan mengetahui

5. Mengajarkan akhlak

Disamping mengajarkan aqidah, ajarkan pula akhlak pada anak. Ajarkan akhlak Rasulullah dan para sahabat. Berilah contoh dalam kehidupan sehari-hari bagaimana abiummi sebagai orang tua bersikap. Bagaimana akhlak kita kepada tamu, tetangga atau akhlak kita ketika sedang marah. Bagaimana akhlak kita saat ditimpa masalah atau saat kecewa dan kalah. Bagaimana akhlak kita saat makan, berteman. Paling penting adalah mengajarkan adab dan akhlak pada orang yang lebih tua.

6.Mengajarkan ajaran agama yang tidak boleh ditinggalkan

Ajarkan anak usia baligh tentang amalan wajib yang harus dikerjakan. Dan apabila ia meninggalkannya maka ia akan berdosa seperti mengerjakan sholat 5 waktu, puasa ramadhan dan sebagainya. Ajarkan mereka cara shalat yang baik. Dimulai dari berwudhu yang benar sesuai tuntunan Rasulullah. Untuk anak laki-laki ajarkan untuk shalat 5 waktu di masjid. Berilah contoh yang baik.

Ajarkan anak tentang halal dan haram. Tentang dosa dan pahala, sunnah dan makruh dan tentang tanggung jawab.

7. Mengajarkan budaya malu

Mengajarkan budaya malu pada anak usia baligh amat penting. Ajarkan ia malu pada auratnya dan malu melihat aurat orang lain. Malu menonton tontonan yang tidak layak, malu jika berbuat dosa dan melakukan kesalahan. Malu jika berlaku curang dan malu jika mea]lakukan dosa. Karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.

8. Memperdengarkan kisah-kisah tentang salafushaleh

Ajaklah anak usia baligh untuk berdiskusi tentang shirah. Tentang perjuangan dan perjalanan Rasulullah juga para sahabat. Agar mereka dapat belajar tentang perjuangan, ahlak, aqidah dan adab. Agar mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan sebagai seseorang yang sudah mukallaf sebagaimana apa yang dilakukan para sahabat.

Kadang melalui media cerita lebih mudah menanamkan nilai-nilai keislaman. Karena melalui shirah anak tidak merasa sedang difurui atau dihakimi.

 Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yusuf/12:111].

Memberikan pendidikan mengenai nilai-nilai islam adalah keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Karena hanya doa anak yang shaleh lah yang akan terus mengalir saat kita telah wafat nanti. Bekali anak kita dengan ilmu agama yang cukup agar ia menjadi anak yang shaleh/shalehah.  Untuk itu doa-doa tulus dari kedua orang tua hendaknya dilakukan seiring dengan upaya abiummi mendidiknya. Lengkapi ikhtiar kita dengan doa terbaik untuk anak-anak kita. Di usia baligh nya semoga anak kita tetap bertumbuh menjadi sosok manusia shaleh/shalehah.

 Seperti do’a yang tercantum di dalam Al-Qur-an:

1. Doa Nabi Zakaria
رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ
(Robbiy habliy mil ladunka dzurriyyatan thoyyibatan innaka sami’ud du’a’)
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (Qs.al-Furqon : 38)

 

Penulis : Nurul Fithrati

Editor : Rizka S. Aji

Foto:  Pixabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *